Benchmarking and Signing MOU Prodi Kebidanan

  1. Latar Belakang

Dalam hembusan era globalisasi, gemanya tak hanya menerpa bidang ekonomi dan informasi/telekomunikasi saja, tetapi menyentuh hampir semua tatanan kehidupan umat manusia. Esensinya adalah bahwa kerja sama internasional antarnegara merupakan prasyarat dalam menata kehidupan global yang lebih baik.

Kondisi kemajuan teknologi informasi dan industri yang berlangsung dengan amat cepat dan ketat di era globalisasi menuntut setiap negara untuk berbenah diri dalam menghadapi persaingan tersebut. Bangsa yang mampu membenahi dirinya dengan meningkatkan sumber daya manusianya, kemungkinan besar akan mampu bersaing dalam kompetisi sehat tersebut.

Terjadinya perdagangan bebas harus dimanfaatkan oleh semua pihak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan, di mana pendidikan diharuskan mampu menghadapi perubahan yang cepat dan sangat besar dalam tentangan pasar bebas, dengan melahirkan manusia-manusia yang berdaya saing tinggi dan tangguh. Sebab diyakini, daya saing yang tinggi inilah agaknya yang akan menentukan tingkat kemajuan, efisiensi dan kualitas bangsa untuk dapat memenangi persaingan era pasar bebas yang ketat tersebut.

Tugas pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi adalah mempersiapkan  sumber daya manusia sebagai subjek perdagangan bebas dengan keunggulan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Di sinilah pendidikan dituntut untuk mampu mendidik dan menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi (qualified) atau justru mandul dalam menghadapi gempuran berbagai kemajuan dinamika globalisasi tersebut.

Dengan demikian, era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Khaerudin Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan pendidikan menghadapi dalam globalisasi., meliputi : Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development ). Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM. Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Keempat, tantangan terhadap munculnya inovasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing di bidangnya secara komprehensif dan komparatif yang berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan (visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar. Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan melalui proses pendidikan yang berkualitas, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, unggul, professional dan kompetitif.

 Tiga konsekuensi logis adanya globalisasi di bidang pendidikan menurut Naisbit dan Patricia (1990) antara lain: 1). Dalam globalisasi, sistem nilai dan filsafat merupakan posisi kunci dalam garapan pendidikan, 2). Globalisasi menuntut adanya angkatan kerja yang berkualifikasi dan berpendidikan (skilled and educated) dan 3). Kerja sama pendidikan mutlak diperlukan. Kerja sama internasional di bidang pendidikan adalah sisi lain daripada konsekuensi globalisasi. Bantuan dana, pengiriman tenaga ahli, ataupun pemberian beasiswa dan pengiriman siswa tugas belajar ke luar negeri merupakan salah satu bentuk kerja sama internasional di bidang pendidikan.

Saat ini secara kuantitas, perkembangan jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Namun secara kualitas masih tertinggal jauh ketimbang negara-negara lain, baik negara-negara maju, maupun negara-negara anggota ASEAN sekalipun. Institusi pendidikan dituntut mampu menjamin kualitas lulusannya sesuai dengan standar kompetensi global, setidaknya mampu mempersiapkan anak didiknya terjun bersaing dengan para tenaga kerja asing, sehingga bisa mengantisipasi membludaknya pengangguran terdidik. Harus diakui, saat ini banyak Perguruan Tinggi yang ternyata belum siap  menghadapi era pasar bebas. Masih banyak yang harus dibenahi, baik dari system pembelajarannya, sarana-prasarana pembelajaran maupun SDM-nya.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka Program Studi Kebidanan Universitas Singaperbangsa Karawang bermaksud menyelenggarakan Benchmarking dan Penandatanganan Kerja Sama dengan beberapa Perguruan Tinggi di Philippina, sebagai langkah awal dari upaya mewujudkan kerja sama Internasional di bidang pendidikan. 

 

  1. Tujuan Benchmarking dan Signing MoU

Tujuan dari pelaksanaan Benchmarking dan Signing MoU adalah :

  1. Menjalin kerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Philippina (Atase Pendidikan).
  2. Meningkatkan wawasan Pimpinan Universitas/Stikes/Akademi tentang penyelenggaraan system pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi di Philippina.
  3. Mewujudkan kerjasama Internasional di bidang Pendidikan dengan penandatanganan MoU U to U dengan beberapa Perguruan Tinggi di Philippina.
  4. Memperbaiki kualitas pendidikan kebidanan dan sumber daya dosen di prodi kebidanan Unsika

 

  1. Sasaran Benchmarking dan Signing MoU
    1. Kedutaan Besar RI di Philippina 
    2. Penyelenggaran pendidikan di Perguruan Tinggi Philippines :
      1. Arellano University
      2. Emilio Aguinaldo College
      3. Philippine Women’s University

 

  1. Waktu dan kediatan Benchmarking dan Signing MoU

Benchmarking dan Signing MoU akan dilaksanakan oleh Ketua Prodi Kebidanan Unsika, namun pada kesempatan tersebut diwakili oleh Sekretaris Prodi Kebidanan Unsika Astri Nurdiana, S.SiT.

Benchmarking dan Signing MoU dilaksanakan selama 2 (dua) hari :

  1. Hari               : Senin 22 September 2014

Universitas  : Emmilio Aguinaldo College

  1. Hari               : Selasa 23 September 2014

Universitas  : Arellano University

  1. Hari               : Selasa 23 September 2014

Universitas  : Philippine Women’s University

 

  1. Implementasi Program

Implementasi program akan diwujudkan berupa mengirimkan dosen dan mahasiswa untuk studi di universitas yang telah bekerjasama. Penandatangan Memorandum of Action akan dilaksanakan pada bulan Januarii di Indonesia dengan mendatangkan perwakilan dari 3 universitas tersebut diatas.

 

Foto Kegiatan : Klik Disini