Karawang, September 2026 — Pendidikan tinggi tidak hanya menjadi jalan untuk meraih gelar akademik. Bagi sebagian mahasiswa, kesempatan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi dapat menjadi sebuah jembatan untuk mengenal dunia, menemukan perspektif baru, dan membawa pulang pengetahuan untuk membangun masyarakat di negara asalnya.
Semangat tersebut
tercermin dalam International
Scholarship Program Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika).
Pada tahun 2026, program ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari calon
mahasiswa internasional. Sebanyak 1.220
pendaftar dari berbagai negara mengikuti proses seleksi, hingga
akhirnya 11 mahasiswa internasional
terpilih untuk melanjutkan pendidikan di Unsika.
Ke-11 mahasiswa
tersebut berasal dari enam negara, yaitu Pakistan, Afghanistan, Myanmar, Yaman,
Bangladesh, dan South Sudan, serta tersebar di berbagai program studi di Unsika.
Welcoming Ceremony: Menyambut Keluarga
Baru Unsika
Sebagai bagian dari
rangkaian penerimaan mahasiswa internasional tahun 2026, Unsika telah
melaksanakan Welcoming Ceremony bagi mahasiswa internasional.
Kegiatan ini secara resmi dibuka dengan laporan dari Ketua International
Relation Office Unsika, Ikhwanussafa Sadidan, serta sambutan dan arahan dari Rektor, Prof. Dr. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc.
Kegiatan tersebut
menjadi momentum penting untuk menyambut para mahasiswa internasional sekaligus
memperkenalkan mereka kepada lingkungan akademik dan budaya Unsika. Dalam
suasana penuh kehangatan, seluruh hadirin bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya dan Himne Unsika sebagai bagian dari
pembukaan kegiatan.
Tidak hanya
memperkenalkan kehidupan akademik, Unsika juga memperkenalkan kekayaan budaya
Indonesia, khususnya budaya Sunda, kepada para mahasiswa internasional. Para
mahasiswa mendapatkan persembahan tarian
Mojang Priangan yang dibawakan oleh tim Parasika Unsika.
Pertunjukan tersebut
menjadi salah satu bentuk pengenalan budaya Tanah Sunda kepada mahasiswa
internasional yang kini akan tinggal dan belajar di Karawang. Melalui seni dan
budaya, para mahasiswa diajak untuk mengenal identitas lokal yang menjadi
bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar kampus.
Selepas sambutan dan
rangkaian penyambutan, mahasiswa internasional mendapatkan sejumlah pembekalan
yang dirancang untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru. Materi
yang diberikan meliputi Tata Cara
Beradaptasi di Karawang, Sistem Akademik Unsika, Keorganisasian Mahasiswa,
serta Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

(Foto: Humas Unsika)(01/09/2026)
Pembekalan tersebut
diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada mahasiswa internasional mengenai
kehidupan sehari-hari di Karawang, sistem pembelajaran di Unsika, serta
berbagai kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan kemahasiswaan.
Kegiatan kemudian
ditutup dengan makan bersama,
yang sekaligus menjadi kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk mencicipi
dan mengenal berbagai makanan khas Indonesia. Dalam suasana penuh kebersamaan,
mereka diperkenalkan dengan nasi
tumpeng, bakso, sate ayam, serta berbagai makanan ringan dan cemilan
tradisional Indonesia.
Momen makan bersama
menjadi penutup yang hangat bagi rangkaian penyambutan. Lebih dari sekadar
menikmati makanan, kegiatan tersebut menjadi ruang interaksi antara mahasiswa
internasional dengan sivitas akademika Unsika sekaligus memperkenalkan kekayaan
kuliner Indonesia kepada para mahasiswa yang datang dari berbagai negara.
Hadia Nasiri: Menemukan Perspektif Baru tentang Perempuan
di Indonesia
Bagi Hadia Nasiri, kesempatan belajar di Unsika
menjadi pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti
perkuliahan. Mahasiswi asal Afghanistan tersebut kini menempuh pendidikan di Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsika.
Selama berada di
Indonesia, Hadia mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan
sosial dan budaya Indonesia. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah
kesempatan yang dimiliki perempuan Indonesia untuk berpartisipasi dalam
berbagai bidang kehidupan.
Hadia merasa sangat
senang melihat bagaimana perempuan di Indonesia memiliki ruang dan kesempatan
yang lebih luas untuk mengikuti berbagai kegiatan, baik dalam pendidikan,
organisasi, maupun aktivitas sosial.
Pengalaman tersebut
memberinya perspektif baru mengenai keberagaman budaya dan kehidupan perempuan
di berbagai negara. Baginya, belajar di Indonesia bukan hanya tentang
mempelajari teori hubungan internasional di dalam kelas, tetapi juga memahami
bagaimana masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda menjalani
kehidupan sehari-hari.
Melalui interaksi
dengan mahasiswa Indonesia, lingkungan kampus, dan masyarakat sekitar, Hadia
juga memiliki kesempatan untuk mempelajari budaya Indonesia secara langsung.
Pengalaman tersebut
menjadi bagian penting dari proses pembelajaran lintas budaya yang ia jalani
selama menjadi mahasiswa Unsika.
Muhammad Faisal Kabir: Pendidikan untuk Membawa Perubahan
ke Kashmir
Cerita berbeda
datang dari Muhammad Faisal Kabir,
mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Unsika yang berasal dari Kashmir, sebuah wilayah yang selama
bertahun-tahun berada dalam situasi konflik dan ketegangan antara Pakistan dan
India.
Latar belakang
tersebut membuat perjalanan pendidikan Faisal memiliki makna tersendiri.
Melalui International Scholarship
Program Unsika, Faisal mendapatkan kesempatan untuk menempuh
pendidikan tinggi di Indonesia, sekaligus membuka cakrawala dan pengalaman baru
di luar daerah asalnya.
Namun, kesempatan
tersebut tidak ingin berhenti pada dirinya sendiri.
Faisal memiliki
sebuah mimpi sederhana tetapi besar: setelah
menyelesaikan pendidikannya, ia ingin kembali memberikan manfaat kepada
masyarakat di daerah asalnya.
Ia ingin membagikan
pengetahuan dan ilmu yang diperolehnya selama belajar di Unsika kepada
anak-anak dan para remaja di desanya. Lebih dari itu, ia ingin mendorong mereka
agar mendapatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas.
Bagi Faisal,
pendidikan merupakan salah satu cara untuk membuka lebih banyak peluang bagi
generasi muda. Ilmu yang ia peroleh di Unsika diharapkan tidak hanya menjadi
bekal untuk membangun masa depannya sendiri, tetapi juga menjadi sesuatu yang
dapat dibagikan kepada masyarakat.
Kisah Faisal
menunjukkan bahwa sebuah kesempatan pendidikan dapat memiliki dampak yang jauh
lebih luas daripada individu yang menerimanya. Pendidikan yang diperoleh di Unsika
kelak dapat dibawa kembali ke Kashmir dan menjadi bagian dari upaya untuk
mendorong generasi muda di sana agar terus belajar dan memiliki cita-cita yang
lebih besar.
Dari Karawang untuk Dunia
Kehadiran mahasiswa
internasional di Unsika tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa yang
datang dari luar Indonesia. Kehadiran mereka juga memperkaya lingkungan
akademik Unsika dengan keberagaman budaya, pengalaman, dan perspektif.
Mahasiswa nasional
mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan teman-teman dari
berbagai negara tanpa harus meninggalkan kampus. Sebaliknya, mahasiswa
internasional mendapatkan kesempatan untuk mengenal Indonesia secara lebih
dekat, mulai dari budaya, bahasa, kehidupan masyarakat, hingga sistem
pendidikan tinggi.
Dengan demikian,
internasionalisasi Unsika bukan sekadar tentang jumlah mahasiswa asing yang
diterima. Lebih dari itu, internasionalisasi adalah tentang membangun ruang perjumpaan antarbudaya, memperluas
wawasan, dan menciptakan generasi muda yang memiliki perspektif global.
Dari Karawang, Unsika
membuka pintu bagi anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia untuk belajar,
bertumbuh, dan berbagi. Dan dari Unsika pula, diharapkan lahir para lulusan
yang tidak hanya membawa pulang gelar akademik, tetapi juga membawa ilmu, persahabatan, pengalaman lintas budaya, dan
harapan untuk membangun masyarakatnya.
Humas Universitas Singaperbangsa Karawang
Jl. HS. Ronggowaluyo, Telukjambe Timur, Karawang
Helpdesk : 0811-8881-0909
Email : info@unsika.ac.id
